Temukan sejarah nama Banten dari masa kerajaan Hindu-Buddha, Kesultanan Banten, kolonial Belanda, hingga provinsi modern. Lengkap dengan sumber terpercaya.
Provinsi Banten adalah salah satu wilayah yang memiliki sejarah panjang di ujung barat Pulau Jawa. Dikenal dengan Kesultanan Banten yang berjaya pada abad ke-16, daerah ini memiliki akar sejarah yang dalam, baik secara budaya, politik, maupun perdagangan. Nama Banten sendiri menyimpan makna yang kaya dan telah melalui perjalanan panjang dari masa kerajaan kuno, era Islam, kolonial Belanda, hingga ditetapkannya sebagai provinsi modern. Artikel ini mengulas lengkap sejarah nama Banten dan asal usul Banten berdasarkan sumber-sumber terpercaya.Asal Usul Nama Banten dari Masa Awal
Nama Banten memiliki beberapa teori asal-usul yang berkembang di kalangan sejarawan dan masyarakat lokal:
1. Dari Kata “Bantayan”
Beberapa ahli menyebut bahwa kata Banten berasal dari “Bantayan” yang berarti tempat pengawasan atau pos pantau. Hal ini masuk akal karena wilayah Banten sejak lama merupakan daerah pesisir yang strategis, tempat lalu lintas kapal niaga dari berbagai wilayah Nusantara maupun mancanegara. Kata “Bantayan” kemudian dipermudah penyebutannya menjadi Banten.
2. Dari Sungai Cibanten
Teori lain menyebut nama Banten berasal dari Sungai Cibanten yang mengalir di wilayah ini. Dalam bahasa Sunda, awalan “Ci-” merujuk pada air atau sungai. Sungai Cibanten menjadi jalur transportasi dan perdagangan penting pada masa kerajaan sehingga nama daerah di sekitarnya kemudian dikenal sebagai Banten.
3. Makna Filosofis Lokal
Ada juga pendapat bahwa kata “Banten” terkait dengan istilah bahasa Sunda kuno yang berarti persembahan atau sesaji. Dalam tradisi Sunda, kata ini memiliki makna spiritual dan sering digunakan dalam upacara adat. Ini mengaitkan Banten dengan nilai-nilai religius dan budaya lokal sejak dahulu kala.
Banten pada Masa Hindu-Buddha
Sebelum berdirinya Kesultanan Banten, wilayah ini sudah dihuni sejak lama dan menjadi bagian penting dari kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha. Pada abad ke-4 hingga ke-7, wilayah Banten berada di bawah pengaruh Kerajaan Tarumanagara yang berpusat di Jawa Barat. Tarumanagara dikenal sebagai kerajaan Hindu tertua di Jawa dengan prasasti-prasasti berhuruf Pallawa.
Setelah Tarumanagara melemah, muncul Kerajaan Sunda Pajajaran yang menguasai sebagian besar wilayah barat Jawa, termasuk Banten. Pada masa ini, Banten menjadi pelabuhan penting bagi perdagangan kerajaan Pajajaran.
Masuknya Islam dan Berdirinya Kesultanan Banten
Peran Sunan Gunung Jati
Islam mulai masuk ke wilayah Banten pada abad ke-15 melalui para pedagang dan ulama, salah satunya Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah), salah satu Wali Songo. Sunan Gunung Jati berhasil menyebarkan Islam di daerah pesisir barat Jawa dan mendirikan pusat dakwah di Cirebon serta Banten.
Kesultanan Banten
Pada tahun 1526, Fatahillah atau Maulana Hasanuddin (putra Sunan Gunung Jati) menaklukkan Pelabuhan Banten yang saat itu masih di bawah kendali Kerajaan Sunda. Dari sinilah berdiri Kesultanan Banten, kerajaan Islam yang kemudian berkembang pesat.
Kesultanan Banten mencapai masa kejayaannya pada abad ke-16 hingga ke-17. Di bawah kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten menjadi salah satu pusat perdagangan rempah dunia dan menjalin hubungan diplomatik dengan banyak negara, termasuk Inggris, Belanda, Denmark, dan Turki Utsmani. Pelabuhan Banten ramai dikunjungi pedagang internasional.
Nama Banten kemudian identik dengan pusat perdagangan dan kekuasaan Islam di barat Pulau Jawa. Dari sinilah istilah “Banten” mulai dikenal luas baik secara lokal maupun internasional.
Banten pada Masa Kolonial Belanda
Belanda mulai masuk ke Banten pada abad ke-17 melalui Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Awalnya, Banten menjalin hubungan dagang dengan VOC, tetapi kemudian terjadi konflik. VOC merebut kendali pelabuhan dan mengintervensi politik internal kesultanan.
Pada abad ke-19, Belanda menghapuskan kekuasaan Kesultanan Banten secara resmi. Wilayah Banten kemudian menjadi bagian dari Karesidenan Banten dalam sistem pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Istilah “Banten” tetap dipertahankan sebagai nama administratif dan kultural, meskipun status politik kesultanan telah hilang.
Banten di Era Kemerdekaan
Banten Menjadi Bagian Jawa Barat
Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, wilayah Banten dimasukkan ke dalam Provinsi Jawa Barat sesuai pembagian administratif awal. Meski demikian, masyarakat Banten tetap mempertahankan identitas sejarah dan budaya mereka yang berbeda dengan Sunda Priangan.
Banten Menjadi Provinsi Sendiri
Setelah melalui perjuangan panjang, Banten akhirnya resmi menjadi provinsi tersendiri pada tahun 2000 melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000. Alasan pemekaran antara lain karena perbedaan budaya, sejarah, serta kebutuhan percepatan pembangunan wilayah.
Kini Provinsi Banten memiliki delapan kabupaten/kota:
- Kabupaten Pandeglang
- Kabupaten Lebak
- Kabupaten Serang
- Kabupaten Tangerang
- Kota Serang
- Kota Cilegon
- Kota Tangerang
- Kota Tangerang Selatan
Ibu kotanya berada di Serang.
Makna Nama Banten dalam Identitas Modern
Nama Banten kini bukan hanya penunjuk wilayah, tetapi juga simbol kejayaan masa lalu dan identitas masyarakatnya. Sebagai bekas pusat perdagangan internasional dan kerajaan Islam yang berpengaruh, Banten memiliki kebanggaan sejarah yang kuat.
Meskipun saat ini modernisasi berkembang pesat terutama di kawasan Tangerang dan Serang, Banten tetap mempertahankan warisan budaya seperti Debus Banten, kesenian khas yang melambangkan keberanian, serta berbagai tradisi keagamaan yang kental.
Kesimpulan
Sejarah nama Banten adalah perjalanan panjang:
- Berawal dari kata Bantayan atau Sungai Cibanten dan makna spiritual lokal.
- Menjadi pusat perdagangan kerajaan Hindu-Buddha seperti Pajajaran.
- Berubah menjadi kerajaan Islam yang berjaya melalui Kesultanan Banten.
- Bertahan pada masa kolonial Belanda sebagai identitas administratif.
- Hingga kini resmi menjadi Provinsi Banten sejak tahun 2000.
Nama Banten tidak sekadar penunjuk geografis, tetapi simbol sejarah kejayaan dan budaya yang unik di ujung barat Pulau Jawa.
