Pelajari sejarah nama Riau dan asal usul Riau, mulai dari etimologi “Rio”, legenda Sinbad, hingga evolusi politik wilayah — ulasan lengkap dengan referensi terpercaya.

Sejarah Awal Wilayah Riau

Wilayah yang kini dikenal sebagai Provinsi Riau memiliki sejarah panjang yang bermula sejak zaman prasejarah. Berdasarkan temuan arkeologis, di daerah Kuantan Singingi ditemukan alat batu dan fosil kayu yang diperkirakan berasal dari masa Pleistosen, yang menunjukkan bahwa manusia telah mendiami daerah ini ribuan tahun lalu. (versi bahasa Inggris – Riau Wikipedia)

Pada masa Kerajaan Sriwijaya (abad ke-7 sampai abad ke-13), pengaruh kerajaan maritim ini merentang sampai wilayah pesisir Sumatra timur, termasuk daerah yang kemudian menjadi Riau. Kebudayaan Melayu juga mulai berkembang kuat di daerah ini, dengan interaksi perdagangan antar pulau dan jalur maritim.

Selanjutnya, di era Kesultanan Melayu dan kerajaan lokal seperti Kesultanan Siak Sri Inderapura, wilayah Riau berperan sebagai bagian dari jaringan politik Melayu di Sumatra timur.

Pada masa kolonial Belanda, Riau termasuk dalam wilayah administratif “Residentie Riouw en Onderhoorigheden” yang meliputi wilayah di daratan Sumatra maupun kepulauan yang terkait.

Setelah kemerdekaan, Riau sempat bagian dari Provinsi Sumatera Tengah bersama Jambi dan Sumatera Barat, sebelum akhirnya menjadi provinsi sendiri pada tahun 1957.

Etimologi: Asal Usul Nama Riau

Versi “Rio” (Bahasa Portugis)

Salah satu versi terpopuler menyebut bahwa nama Riau berasal dari kata Portugis rio yang berarti “sungai”. (contoh: Rio de Janeiro berarti “sungai Januari”)

Dalam penelitian Hasan Junus (peneliti naskah Melayu), disebutkan bahwa ketika Portugis datang ke kawasan Melayu-Bintan, mereka mengenal sungai “Rio” di pulau Bintan, dan istilah itu menurut versi dialihkan dan meluas menjadi Riau di daratan.

Dalam dokumen BPK Riau, disebut bahwa Riau dirujuk sebagai wilayah yang dikuasai oleh Raja bawahan Johor di Pulau Penyengat, dan ejaan “Riouw” digunakan pada masa kolonial, kemudian berubah ke “Riau” oleh masyarakat lokal.

Versi “Riahi” dari Legenda / Kisah Melayu

Versi kedua menyebut bahwa nama Riau berasal dari kata riahi, yang muncul dalam kisah Sinbad al-Bahar dalam kitab Alf Layla wa Layla (Seribu Satu Malam). Menurut versi ini, riahi bermakna “air laut” atau tempat yang berkaitan dengan laut.

Versi ini pernah dikemukakan oleh Oemar Amin Husin dalam pidatonya, bahwa nama Riau ini ada hubungannya dengan sebutan di cerita klasik tersebut.

Versi “Rioh / Riuh” (Bahasa Melayu)

Versi ketiga mengemukakan bahwa nama Riau berasal dari kata Melayu riuh (atau rioh) yang berarti “ramai” atau “hiruk pikuk”. Karena masyarakat Melayu di daerah ini ramai bekerja atau aktif dalam aktivitas perdagangan, maka nama Riau muncul dari adaptasi kata riuh.

Beberapa versi menyebut bahwa ketika didirikan negeri baru di tepi Sungai Carang, pusat kerajaan di hulu sungai dinamai Ulu Riau. Dari sana kata Riau muncul dalam ucapan masyarakat setempat.

Ada juga versi bahwa dalam masyarakat Siak dikenal kata “meriau” yang artinya musim ikan bermain-main, dan di Kuantan Sengingi “meriau” berarti cara mengumpulkan ikan di satu tempat agar lebih mudah ditangkap banyak. Dari meriau kemudian menjadi Riau.

Beberapa pakar menyatakan bahwa dari ketiga versi tersebut, versi riuh / rioh lebih banyak dianggap kemungkinan mendasar atas penggunaan nama Riau di kalangan lokal, karena berakar dari bahasa Melayu sehari-hari. (namun tidak ada konsensus mutlak)

Evolusi Administratif dan Penggunaan Nama Riau

Masa Portugis & Penamaan Awal

Ketika Portugis melakukan penjelajahan di kepulauan Melayu, mereka melewati kawasan Bintan dan mencatat keberadaan sungai “Rio”. Dari situ kemungkinan nama itu kemudian diadopsi oleh pelaut dan pedagang sebagai sebutan untuk kawasan yang banyak sungai.

Masa Kesultanan Melayu dan Pemerintahan Lokal

Kawasan Riau pernah berada dalam pengaruh Kesultanan Melayu Johor-Riau-Lingga. Ketika pusat-pusat kerajaan Melayu berpindah, nama Riau menjadi bagian dari jaringan kerajaan Melayu dalam rumpun politik Melayu di pesisir timur Sumatra dan pulau-pulau sekitarnya.

Masa Kolonial Belanda

Pada masa Hindia Belanda, wilayah ini dibentuk menjadi Residentie Riouw en Onderhoorigheden. Ejaan “Riouw” digunakan dalam bahasa Belanda untuk menyebut wilayah tersebut. Ketika diserap ke dalam bahasa Melayu lokal, ejaan “Riouw” mengalami adaptasi menjadi “Riau”.

Dalam struktur administrasi kolonial, Riau dibagi menjadi beberapa afdeling dan distrik di bawah residensi yang lebih besar.

Era Kemerdekaan & Pembentukan Provinsi

Setelah kemerdekaan, wilayah Riau awalnya termasuk dalam Provinsi Sumatera Tengah (bersama Sumatera Barat dan Jambi). Namun karena faktor jarak, perbedaan sosial budaya, dan aspirasi lokal, Riau memisahkan diri dan menjadi provinsi tersendiri pada 10 Agustus 1957.

Proses pembentukan provinsi Riau ditandai oleh perjuangan tokoh-tokoh lokal melalui Kongres Pemuda Riau (1954) dan Kongres Rakyat Riau (1956).

Sejak saat itu, nama Provinsi Riau digunakan secara resmi sebagai identitas administratif.

Arti Filosofis Nama Riau

Nama Riau meski sederhana secara fonetik, mengandung makna historis dan lokal:

  • Jika berasal dari rio (sungai), maka mencerminkan geografi wilayah yang dilalui banyak sungai besar seperti Siak, Kampar, Indragiri, Rokan.
  • Jika berasal dari riahi, menunjukkan hubungan historis dengan laut dan perdagangan maritim dalam tradisi Melayu klasik.
  • Jika berasal dari riuh, maka nama ini melambangkan aktivitas ramai—perdagangan, keramaian masyarakat, kehidupan sosial yang dinamis.

Dalam konteks budaya Melayu, nama Riau dipandang sebagai identitas Melayu pesisir yang kuat, berlatar sejarah kerajaan Melayu dan interaksi maritim.

Kesimpulan

Nama Riau memiliki akar etimologi yang kompleks dan menarik. Dalam kajian “sejarah nama Riau” dan “asal usul Riau”, terdapat setidaknya tiga versi utama: dari kata Portugis rio (sungai), dari kata legendaris riahi, dan dari kata Melayu riuh / rioh (“ramai”).

Versi rio banyak dipakai dalam narasi resmi dan dokumen, sedangkan versi riuh sering dianggap dekat dengan penggunaan bahasa rakyat sehari-hari.

Seiring waktu, nama Riau tidak hanya menjadi nama tempat, tapi juga simbol identitas Melayu dan sejarah panjang kawasan pesisir timur Sumatra.