Ungkap misteri sejarah nama Lampung dan asal usul Lampung, mulai dari catatan Cina kuno “Lampohwang”, legenda Ompung Silamponga, hingga berdirinya Provinsi Lampung modern.
Sejarah Awal Wilayah Lampung
Lampung terletak di ujung selatan Pulau Sumatra dan menjadi salah satu wilayah paling strategis di Nusantara sejak masa lampau. Letaknya di tepi Selat Sunda menjadikannya penghubung alami antara Pulau Jawa dan Sumatra.
Bukti arkeologis di daerah Sekala Brak, Pesisir Barat, dan Teluk Lampung menunjukkan bahwa manusia telah menghuni wilayah ini sejak ribuan tahun silam.
Sejak dahulu, wilayah Lampung dikenal sebagai tanah yang subur, kaya hasil bumi, dan terbuka bagi berbagai pengaruh luar. Karena itulah, sejarah Lampung tidak bisa dilepaskan dari peradaban besar seperti Sriwijaya, hubungan dagang dengan Cina, hingga pengaruh kolonial Belanda.
Sebelum menjadi provinsi sendiri, Lampung merupakan bagian dari Karesidenan Sumatera Selatan. Baru pada 18 Maret 1964, Lampung resmi berdiri sebagai provinsi ke-8 di Sumatra berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1964.
Asal Usul Nama Lampung
Nama Lampung memiliki sejarah panjang dan berbagai versi asal-usul. Hingga kini, tidak ada satu teori tunggal yang disepakati, namun sejumlah versi menarik telah ditelusuri dari sumber sejarah, legenda, dan linguistik.
1. Versi Catatan Cina: “Lampohwang”
Salah satu teori paling tua menyebut bahwa nama Lampung berasal dari istilah “Lampohwang” (atau Lampungwang) yang tercatat dalam kronik Tiongkok dari masa Dinasti Tang.
Dalam catatan itu, Lampohwang disebut sebagai wilayah di selatan Sumatra yang kaya hasil bumi dan menjadi jalur perdagangan penting.
Menurut sejarawan Belanda Prof. Dr. Krom dalam buku Zaman Hindu di Nusantara, “Lampohwang” adalah transliterasi fonetik dari nama daerah Lampung dalam bahasa Cina kuno.
Teori ini diperkuat oleh jejak hubungan dagang antara Sriwijaya dan Tiongkok, yang menempatkan Lampung sebagai salah satu pelabuhan transit utama di selatan Sumatra. Seiring waktu, penyebutan “Lampohwang” berubah pelafalannya menjadi “Lampung”.
2. Versi Bahasa Batak: “Lappung” (Besar)
Versi lain mengatakan bahwa kata “Lampung” berasal dari bahasa Batak, yaitu Lappung, yang berarti “besar” atau “luas”.
Legenda rakyat menuturkan bahwa sekelompok orang Batak purba yang berlayar ke arah selatan Pulau Sumatra terdampar di Krui (wilayah Lampung Barat sekarang).
Mereka menyebut daerah yang mereka lihat sebagai Lappung karena tanahnya luas dan subur.
Seiring perkembangan dialek lokal dan pengaruh Melayu, kata Lappung mengalami pelesapan fonem menjadi Lampung.
Selain itu, kesamaan linguistik antara bahasa Lampung dengan rumpun Batak–Austronesia memperkuat teori ini secara etimologis.
3. Legenda Ompung Silamponga
Dalam tradisi lisan masyarakat adat, terdapat legenda Ompung Silamponga, tokoh yang dianggap leluhur masyarakat Lampung.
Dikisahkan, ketika Ompung Silamponga berdiri di atas bukit tinggi dan melihat hamparan dataran luas di bawahnya, ia berseru: “Lappung!” yang berarti “tanah luas.”
Ucapan itu kemudian dipercaya menjadi cikal bakal nama daerah tersebut.
Meskipun tidak tercatat dalam sumber tertulis, legenda ini sangat populer dan memperkuat identitas budaya lokal masyarakat adat Lampung.
4. Teori “Anjak Lambung”
Beberapa peneliti lokal mengaitkan asal nama “Lampung” dengan istilah kuno “Anjak Lambung”, yang berarti “turun dari ketinggian.”
Teori ini muncul karena leluhur masyarakat Lampung diyakini berasal dari daerah pegunungan Sekala Brak (di lereng Gunung Pesagi), yang kemudian berpindah ke dataran rendah dan pesisir.
Nama “Lampung” dianggap sebagai penyederhanaan fonetik dari Anjak Lambung, menggambarkan perpindahan leluhur dari pegunungan ke dataran rendah.
Lampung dalam Jaringan Kerajaan dan Perdagangan
Pada abad ke-7 hingga ke-12 Masehi, wilayah Lampung menjadi bagian dari Kerajaan Sriwijaya, kekuatan maritim besar di Asia Tenggara yang berpusat di Palembang.
Lampung berfungsi sebagai pelabuhan penting untuk perdagangan lada, kapur barus, dan rempah-rempah.
Catatan Cina Taiping Huanyu Ji juga menyebutkan kerajaan di selatan Sumatra bernama To-lang dan Po-hwang, yang diyakini merujuk pada daerah Tulang Bawang dan Lampung.
Ini menunjukkan bahwa Lampung telah dikenal di dunia luar sejak lebih dari seribu tahun yang lalu.
Masa Kolonial dan Pengaruh Belanda
Pada abad ke-17, bangsa Belanda mulai menanam pengaruhnya di Lampung melalui monopoli perdagangan lada.
Wilayah ini sangat penting bagi VOC karena menjadi penghasil lada terbesar di Nusantara bagian barat.
Belanda kemudian menjadikan Lampung sebagai Karesidenan Lampung, di bawah pemerintahan Hindia Belanda dan administratif Provinsi Sumatera Selatan.
Dalam masa ini pula banyak pendatang dari Pulau Jawa yang datang ke Lampung melalui program transmigrasi, baik kolonial maupun pasca-kemerdekaan, menjadikan Lampung provinsi dengan keberagaman etnis yang tinggi.
Pembentukan Provinsi Lampung
Setelah Indonesia merdeka, pemerintah daerah mengusulkan agar Lampung menjadi provinsi mandiri.
Aspirasi ini muncul karena jarak geografis dengan Palembang cukup jauh dan perbedaan budaya yang kuat.
Akhirnya, pada 18 Maret 1964, pemerintah menetapkan pembentukan Provinsi Lampung melalui Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1964.
Penetapan ini bukan hanya administrasi, tetapi juga pengakuan terhadap sejarah panjang dan identitas masyarakat Lampung yang sudah terbentuk jauh sebelum era modern.
Nama “Lampung” pun dipertahankan sebagai nama resmi provinsi karena telah dikenal luas secara historis dan kultural.
Arti Filosofis Nama Lampung
Nama Lampung mencerminkan nilai-nilai luhur masyarakat setempat yang mencintai kedamaian, keterbukaan, dan gotong royong.
Ungkapan adat “Sai Bumi Ruwa Jurai” (Satu Bumi Dua Aliran) menjadi simbol persatuan dua kelompok utama masyarakat Lampung:
- Pepadun (penduduk pedalaman)
- Pesisir (penduduk pantai)
Keduanya hidup berdampingan dengan adat, bahasa, dan sistem kemargaan yang berbeda namun saling melengkapi.
Nama “Lampung” akhirnya menjadi identitas yang menyatukan seluruh kelompok etnis dan budaya di wilayah ini.
Kesimpulan
Sejarah nama Lampung bukan sekadar kisah linguistik, tetapi juga cerminan perjalanan budaya dan peradaban.
Mulai dari istilah Cina Lampohwang, bahasa Batak Lappung, legenda Ompung Silamponga, hingga teori Anjak Lambung, semuanya menunjukkan betapa kaya dan kompleksnya asal-usul nama ini.
Dengan berdirinya Provinsi Lampung pada tahun 1964, nama ini bukan hanya menjadi label administratif, melainkan simbol warisan sejarah, kearifan lokal, dan semangat persatuan masyarakatnya.
Melalui pemahaman tentang sejarah nama Lampung dan asal usul Lampung, kita dapat menghargai betapa mendalam makna di balik sebuah nama daerah yang telah menjadi bagian penting dari sejarah Nusantara.

