Telusuri lengkap sejarah nama Kalimantan Selatan, asal-usul penyebutan Banjar, peran vital Kesultanan Banjar, dan bagaimana pembagian administratif kolonial membentuk identitas Asal Usul Kalimantan Selatan yang kaya.

Jejak Sejarah Nama Kalimantan Selatan: Menelusuri Warisan Abadi Kesultanan Banjar

Sejarah nama Kalimantan Selatan adalah kisah yang tidak terpisahkan dari kejayaan maritim dan pusat peradaban Islam di Pulau Kalimantan. Nama provinsi ini, yang kini dikenal sebagai Kalimantan Selatan atau sering disingkat Kalsel, memiliki akar yang kuat pada nama etnis dan kerajaan besar yang pernah berkuasa di kawasan tersebut, yaitu Banjar.

Untuk memahami secara utuh Asal Usul Kalimantan Selatan, kita harus melakukan perjalanan kembali ke masa ketika pelabuhan di tepian Sungai Barito dan Martapura menjadi urat nadi perdagangan Nusantara dan pusat lahirnya Kesultanan yang berpengaruh.

Mengurai Kata Kunci: Asal Usul Nama “Banjar”

Inti dari sejarah nama Kalimantan Selatan terletak pada etimologi dan konteks historis kata “Banjar”. Penamaan Banjar tidak hanya merujuk pada sebuah suku, tetapi juga pada nama tempat yang menjadi cikal bakal ibu kota kerajaan.

Dari “Oloh Masih” ke “Banjarmasih”

Menurut Hikayat Banjar—sumber sejarah utama mengenai kawasan ini—nama Banjar berasal dari sebuah perkampungan dataran rendah yang disebut Banjarmasih.

  • Asal Kata: Kata Banjar dalam bahasa Melayu dapat diartikan sebagai kampung atau berderet-deret, merujuk pada tata letak perumahan di sepanjang tepian sungai.
  • Oloh Masih: Kampung ini awalnya dihuni oleh suku Melayu dan dikenal oleh komunitas Dayak Ngaju di sekitarnya (Oloh Ngaju) dengan sebutan Oloh Masih (yang berarti Orang Melayu). Pemimpin komunitas ini disebut Patih Masih.
  • Banjarmasih: Kampung yang dipimpin Patih Masih inilah yang kemudian dikenal sebagai Banjarmasih, atau “kampung orang-orang Melayu.”

Nama Banjarmasih ini kemudian diresmikan pada tahun 1526 sebagai ibu kota baru Kerajaan Islam yang didirikan oleh Pangeran Samudera.

H3: Peran Vital Sungai dalam Penamaan

Sungai adalah jantung kehidupan di Kalimantan Selatan. Sebutan Banjar atau Banjarmasih sangat erat kaitannya dengan budaya sungai. Wilayah ini terbentuk dari pertemuan beberapa sungai kecil (seperti Sungai Kuin dan Sungai Martapura) yang menjadikannya pusat strategis. Julukan modern Banjarmasin sebagai “Kota Seribu Sungai” memperkuat bahwa geografis sungai adalah identitas fundamental dalam Asal Usul Kalimantan Selatan.

Kejayaan Maritim: Kesultanan Banjar (1526–1860)

Identitas kawasan selatan Kalimantan secara keseluruhan sangat didominasi oleh kekuasaan Kesultanan Banjar. Kesultanan inilah yang secara de facto mewakili entitas politik terkuat dan terluas di wilayah tersebut selama berabad-abad.

H3: Kelahiran Kesultanan dan Pengaruh Islam

Sejarah nama Kalimantan Selatan tidak bisa dilepaskan dari perjuangan Pangeran Samudera. Pangeran Samudera, yang merupakan pewaris takhta Kerajaan Daha (Hindu), melarikan diri ke hilir sungai dan mencari perlindungan di perkampungan Banjarmasih.

Untuk merebut kembali haknya dari pamannya, Pangeran Samudera meminta bantuan dari Kesultanan Demak (Jawa). Bantuan tersebut diberikan dengan syarat bahwa ia dan rakyatnya bersedia memeluk Islam. Setelah menang pada tahun 1526, Pangeran Samudera memeluk Islam, bergelar Sultan Suriansyah, dan secara resmi mendirikan Kesultanan Banjar dengan ibu kota di Banjarmasih.

Keberadaan Kesultanan ini secara otomatis menjadikan wilayah kekuasaannya dikenal sebagai Tanah Banjar atau wilayah yang berada di bawah otoritas Kesultanan Banjar, mencakup sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan saat ini.

H3: Pergeseran Nama: Dari Banjarmasih ke Banjarmasin

Seiring berjalannya waktu dan masuknya pengaruh asing, terjadi perubahan penulisan nama:

  • Abad ke-16: Nama awal adalah Banjarmasih.
  • Era Kolonial: Ketika Belanda mulai berkuasa dan melakukan pendokumentasian, mereka menulisnya sebagai Bandjermasin (sekitar 1845) sesuai dengan logat dan ejaan mereka.
  • Era Modern: Dalam ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan, nama ini dibakukan menjadi Banjarmasin.

Meskipun nama ibu kota mengalami perubahan ejaan, nama entitas wilayahnya tetap mengacu pada Banjar.

Pembentukan Administratif: Lahirnya Kalimantan Selatan

Penetapan nama Kalimantan Selatan sebagai nama provinsi adalah hasil dari pembagian wilayah administratif oleh Pemerintah Kolonial Belanda yang kemudian diadopsi dan disesuaikan oleh Pemerintah Republik Indonesia.

H3: Pembagian Kolonial: Zuider- en Ooster Afdeeling

Di masa Hindia Belanda, seluruh pulau Kalimantan (dikenal sebagai Borneo) dibagi menjadi wilayah-wilayah administratif berdasarkan arah mata angin. Wilayah yang mewarisi kekuasaan dan pusat perdagangan Kesultanan Banjar dinamakan Zuider- en Ooster Afdeeling van Borneo (Divisi Selatan dan Timur Borneo), yang berpusat di Banjarmasin.

Meskipun nama Afdeeling ini mencakup wilayah Selatan dan Timur, pusatnya yang sangat dominan berada di kawasan Banjar (Selatan).

H3: Penetapan Nama Provinsi (1950 & 1956)

Pasca kemerdekaan, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) menetapkan Kalimantan sebagai salah satu dari delapan provinsi pertama Republik Indonesia.

  • 1950: Wilayah bekas Afdeeling di selatan ini dibentuk menjadi Karesidenan Kalimantan Selatan di dalam Provinsi Kalimantan.
  • 19156: Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1956, Provinsi Kalimantan dipecah menjadi tiga provinsi otonom, salah satunya adalah Provinsi Kalimantan Selatan.

Nama Kalimantan Selatan (Zuid Borneo) secara logis diambil dari posisi geografisnya di bagian selatan Pulau Kalimantan, yang secara historis merupakan wilayah yang sangat identik dengan Banjar—sebagai etnis, budaya, dan pusat pemerintahan.

Dengan demikian, sejarah nama Kalimantan Selatan adalah gabungan antara:

  1. Akar etimologis lokal Banjar (kampung/komunitas).
  2. Warisan politik Kesultanan Banjar.
  3. Penyesuaian administratif modern berdasarkan arah mata angin Selatan.

Warisan ini terus hidup dalam semboyan daerah, budaya, dan identitas masyarakat Banjar hingga saat ini.