Telusuri sejarah Bandar Lampung yang menarik, berawal dari dua pusat kekuasaan, Telukbetung (pesisir) dan Tanjungkarang (dataran tinggi). Pahami kronologi Asal Usul Bandar Lampung hingga resmi menjadi ibu kota Provinsi Lampung pada tahun 1983.

Menguak Kisah Dua Kota yang Menyatu: Sejarah Nama Bandar Lampung dari Telukbetung dan Tanjungkarang

Sejarah Bandar Lampung adalah kisah tentang penyatuan dua entitas yang berbeda, namun saling melengkapi: Telukbetung yang menghadap laut dan Tanjungkarang yang bersemayam di perbukitan. Nama yang kita kenal hari ini, Bandar Lampung, bukanlah nama asli, melainkan puncak dari perjalanan panjang administrasi dan perkembangan wilayah yang telah berlangsung sejak era kolonial hingga kemerdekaan.

Memahami Asal Usul Bandar Lampung berarti menelusuri bagaimana wilayah yang dulunya adalah pusat Keresidenan Lampung dan dua kota terpisah itu, akhirnya melebur menjadi satu kota besar, dan menjadi gerbang utama Pulau Sumatera dari sisi Jawa.

Babak Awal: Dua Pusat Kekuatan di Tanah Lampung

Jauh sebelum nama Bandar Lampung ditetapkan, wilayah ini telah menjadi pusat kegiatan penting, terbagi antara pelabuhan dan pusat pemerintahan.

Telukbetung: Gerbang Maritim dan Pusat Kekuasaan

Telukbetung, yang terletak di tepi Teluk Lampung, telah menjadi lokasi strategis maritim sejak lama.

Nama Telukbetung sendiri diperkirakan berasal dari jenis bambu, yakni Bambu Betung, yang tumbuh subur di kawasan ini, melambangkan kekuatan, kelenturan, dan manfaat yang besar bagi masyarakatnya. Secara historis, wilayah Telukbetung juga merupakan bagian penting dari jalur pelayaran dan perdagangan yang diawasi oleh Kesultanan Banten di masa lampau.

Pada tahun 1682, wilayah Lampung Telukbetung sudah tercatat sebagai tempat kedudukan dalam laporan Residen Banten kepada Gubernur Jenderal Cornelis. Tanggal 17 Juni 1682 kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Bandar Lampung, merujuk pada laporan bersejarah ini.

Pada masa Kolonial Hindia Belanda, Telukbetung ditetapkan sebagai Ibukota Keresidenan Lampung karena perannya sebagai pelabuhan dan pintu masuk wilayah.

Tanjungkarang: Pusat Pemerintahan dan Ketinggian

Berjarak sekitar 5 kilometer di sebelah utara dari Telukbetung dan terletak di dataran yang lebih tinggi, berdiri wilayah Tanjungkarang. Meskipun Telukbetung adalah ibukota Keresidenan, anehnya, ibukota dari wilayah administrasi Onder Afdeling Telokbetong justru ditetapkan di Tanjungkarang.

Tanjungkarang pada awalnya berkembang sebagai tempat persinggahan bagi para pedagang. Perkembangan pesat terjadi setelah pembangunan infrastruktur kolonial, terutama jalur kereta api Staatsspoorwegen op Zuid pada tahun 1911. Stasiun Tanjungkarang menjadi salah satu pusat aktivitas transportasi dan logistik utama di Sumatera Selatan, menguatkan peran Tanjungkarang sebagai pusat dataran tinggi.

Dengan demikian, terbentuklah dualisme kekuasaan di mana Telukbetung merupakan kawasan pesisir dan pelabuhan, sedangkan Tanjungkarang merupakan kawasan perkotaan dan pusat logistik di dataran yang lebih tinggi.

Babak Penyatuan: Lahirnya Tanjungkarang-Telukbetung

Pada perkembangannya, kedua wilayah ini—yang pada zaman kolonial Hindia Belanda termasuk dalam wilayah Onder Afdeling Telokbetong—mulai tumbuh menyatu secara fisik dan administratif, terutama pada masa pendudukan Jepang.

H3: Dari Dua Pusat Menjadi Kota Tunggal

Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), pemerintah Jepang menyatukan kedua wilayah ini di bawah satu administrasi dengan nama Kota Tanjungkarang–Telukbetung (shi). Penyatuan ini terus berlanjut setelah Indonesia Merdeka.

Ketika Keresidenan Lampung dinaikkan statusnya menjadi Provinsi Lampung pada tahun 1964, Kota Tanjungkarang–Telukbetung resmi ditetapkan sebagai Kotamadya Daerah Tingkat II Tanjungkarang–Telukbetung dan sekaligus menjabat sebagai ibu kota provinsi baru tersebut.

Nama “Tanjungkarang–Telukbetung” mencerminkan gabungan identitas dua pusat sejarah yang kini menjadi satu kesatuan.

Babak Modern: Asal Usul Nama Bandar Lampung (1983)

Titik kulminasi dari sejarah Bandar Lampung adalah perubahan nama resmi dari Kotamadya Tanjungkarang–Telukbetung menjadi Kotamadya Bandar Lampung pada tahun 1983.

Menyatukan Identitas yang Lebih Luas

Pada awal tahun 1980-an, Kotamadya Tanjungkarang–Telukbetung mengalami pemekaran wilayah yang signifikan. Wilayah kota diperluas dengan masuknya tiga kecamatan baru yang sebelumnya berada di bawah Kabupaten Lampung Selatan, yaitu:

  1. Kecamatan Kedaton
  2. Kecamatan Panjang
  3. Kecamatan Sukarame

Dengan masuknya wilayah-wilayah yang lebih luas ini, nama lama Tanjungkarang–Telukbetung dianggap tidak lagi relevan, karena cakupan kota sudah jauh melampaui dua inti kota lama tersebut. Selain itu, nama yang terlalu panjang juga kurang efisien secara administratif.

Oleh karena itu, pada tahun 1983, melalui Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1983, nama resmi kotamadya diubah menjadi: Kotamadya Daerah Tingkat II Bandar Lampung.

Makna dan Filosofi Nama Bandar Lampung

Pemilihan nama Bandar Lampung memiliki filosofi yang kuat:

  • Bandar: Secara umum berarti pelabuhan atau pusat perdagangan (bandingkan dengan bandara untuk pelabuhan udara). Nama ini menggarisbawahi peran Kota Lampung sebagai pintu gerbang utama dan pusat kegiatan ekonomi, baik melalui Pelabuhan Panjang maupun sebagai titik simpul transportasi Sumatera.
  • Lampung: Merujuk pada nama Provinsi dan identitas etnis serta geografis wilayah.

Dengan menyandang nama Bandar Lampung, kota ini menegaskan posisinya sebagai pusat aktivitas dan perdagangan utama di wilayah Lampung secara keseluruhan, menggantikan nama lama yang terkesan hanya fokus pada dua titik geografis.

Sejak reformasi, nama tersebut disederhanakan menjadi Kota Bandar Lampung pada tahun 1999, namun substansi penamaan yang menyatukan identitas dua kota kembar dan mempertegas peran sebagai bandar (pusat) tetap dipertahankan hingga kini.