TENTANG WISATA
Masjid Agung Demak berdiri megah sebagai saksi bisu perjalanan panjang sejarah Islam di Nusantara. Dibangun pada akhir abad ke-15 Masehi (sekitar tahun 1477 M), masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan pusat peradaban yang digagas oleh Raden Patah, sultan pertama Kesultanan Demak, bersama para Wali Songo yang kharismatik.
Pada masa kejayaannya, masjid ini memegang peranan vital ganda: sebagai jantung spiritual umat Islam sekaligus pusat pemerintahan Kesultanan Demak Bintoro, kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Di sinilah para ulama dan umara (pemimpin) masa lalu berkumpul untuk merumuskan strategi dakwah dan kenegaraan, menandai era baru peralihan dari masa Majapahit menuju masa Islam.
Hingga detik ini, aura spiritual dan karisma Masjid Agung Demak tidak pernah pudar. Ia tetap menjadi magnet bagi ribuan peziarah dan wisatawan dari berbagai penjuru yang ingin meresapi keagungan masa lalu, sekaligus mengagumi kekokohan bangunan yang menjadi simbol abadi persatuan agama dan budaya dalam sejarah bangsa Indonesia.
DAYA TARIK
-
"Little Madinah": Memiliki 6 payung hidrolik raksasa di pelataran yang menciptakan suasana mirip Masjid Nabawi.
-
Menara Asmaul Husna (99m): Menara pandang setinggi 99 meter untuk menikmati lanskap Kota Semarang dari ketinggian dan museum sejarah Islam.
-
Arsitektur 3 Budaya: Desain unik yang memadukan gaya Jawa (atap limas), Romawi (25 pilar kolosal), dan Arab (kubah & kaligrafi).
-
Koleksi Raksasa: Menyimpan Al-Qur'an Akbar tulisan tangan dan Bedug Raksasa "Manggaladana".
FASILITAS
Informasi Kunjungan
- Jam Buka
- Tiket Masuk
Mulai dari
Masjid: Gratis (donasi sukarela)
Museum: Mulai dari Rp 20.000 (disarankan cek harga terbaru).






