Kota Bandung, ibu kota Provinsi Jawa Barat, memiliki cerita panjang dan menarik mengenai asal-usul namanya. Di balik julukan “Kota Kembang”, “Paris van Java”, dan “Kota Mode”, terdapat warisan budaya, mitos lokal, dan fenomena alam yang membentuk identitas Bandung. Nama “Bandung” bukan sekadar kata, melainkan simbol pertemuan legenda, geologi, dan filosofi masyarakat Sunda.

Latar Geologi dan Danau Bandung Purba

Sebelum kota modern berdiri, wilayah Bandung merupakan cekungan yang dulunya tergenang air. Ada teori kuat tentang Danau Bandung Purba: sekitar ribuan tahun lalu, aliran lava dari Gunung Tangkuban Parahu membendung sungai Citarum, menyebabkan terjadinya banjir dan terbentuknya danau besar di cekungan Bandung. Seiring waktu, airnya surut dan menyisakan dataran subur — dari sanalah pemukiman kemudian berkembang.

Karena fenomena alam inilah, sebagian ahli percaya nama “Bandung” berasal dari kata “bendung / bendungan” — suatu bentukan alam ketika aliran air terhalang.

Teori Etimologis: Banding, Ngabandeng, dan Filosofi Sunda

Selain teori “bendung”, ada pula pendapat bahwa nama Bandung berakar dari kata “banding / ngabandeng” dalam bahasa Sunda, yang berarti “berdampingan” atau “berjejal” — menggambarkan kedekatan atau kerjasama (bersama-sama). Ungkapan filosofis Sunda “Nga-Bandung-an Banda Indung” juga dikemukakan sebagai interpretasi spiritual yang maknanya mendalam: “Banda” merujuk pada benda atau kekayaan, “Indung” berarti ibu (bumi), dan “nga-bandung-an” bisa diartikan sebagai penyatuan atau hubungan harmonis antara manusia, alam dan leluhur.

Teori-teori ini memperlihatkan bahwa nama Bandung bukan hanya peta danau atau bendungan, tetapi juga nilai budaya dan identitas lokal.

Legenda Rakyat: Empu Wisesa, Sekar, Wira & Jaka

Dalam kisah rakyat, ada cerita tentang Empu Wisesa, seorang tokoh sakti yang memiliki anak perempuan bernama Sekar, dan dua murid bernama Wira dan Jaka. Konon, beliau meminta murid-muridnya untuk meredam aliran lahar atau air dari Tangkuban Parahu agar tanah lebih aman. Wira melakukannya dengan menabahkan aliran, menciptakan genangan yang kemudian mengering menjadi bagian dari dataran Bandung. Ilmu dan pertaruhan moral dalam legenda ini menjadi bagian dari cara masyarakat Sunda menuturkan asal usul kota mereka.

Meskipun legenda ini tidak dapat diverifikasi secara ilmiah, cerita seperti ini menyuntikkan elemen kepercayaan, nilai budaya, dan identitas lokal ke dalam nama Bandung.

Konteks Sejarah Perkembangan Kota Bandung

Pada masa kolonial Belanda, Bandung mulai mendapat perhatian strategis. Pembangunan Jalan Raya Pos oleh Daendels (Anyer – Panarukan) melewati wilayah Priangan menjadikan Bandung semakin terhubung dengan daerah lain. Seiring itu, pemukiman Eropa dan perkebunan terbuka — kota kecil tumbuh menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi wilayah Priangan.

Sejarah resmi mencatat bahwa nama Bandung sudah digunakan setidaknya sejak periode kolonial awal. Pemerintah Kota Bandung dalam situs resminya juga menyebut bahwa filosofi Sunda dan mitos lokal turut membentuk makna nama kota tersebut.

Interpretasi dan Kepopuleran Teori Nama

Tidak ada satu teori pun yang diterima secara mutlak — nama Bandung tetap berada dalam dimensi multi-interpretasi:

  • Sebagai nama naturalis (bendung/air)
  • Sebagai nama budaya/filosofis (ngabandeng)
  • Sebagai legenda rakyat (kisah Empu Wisesa dan muridnya)
  • Sebagai identitas modern yang menggabungkan alam, budaya, dan sejarah

Masyarakat & peneliti sering memilih teori berdasarkan konteks — baik fisik (geologi), linguistik, maupun simbolik budaya.