Pelajari lengkap sejarah nama Kalimantan Tengah, dari penamaan geografis, peran Kerajaan Banjar dan Belanda, hingga penetapan resmi sebagai provinsi. Pahami Asal Usul Kalimantan Tengah yang kaya budaya Dayak dan filosofi Huma Betang.

Menelisik Sejarah Nama Kalimantan Tengah: Kisah Tanah Dayak, Bumi Tambun Bungai, dan Penentuan Identitas

Sejarah nama Kalimantan Tengah adalah narasi penting tentang perjuangan regional, identitas etnis yang kuat, dan keputusan administratif pascakemerdekaan Indonesia. Berbeda dengan provinsi tetangganya yang penamaannya banyak dipengaruhi oleh pusat kekuasaan kuno (seperti Pontianak di Barat dan Banjar di Selatan), identitas Kalimantan Tengah lebih erat kaitannya dengan penentuan geografis dan upaya pengakuan otonomi bagi suku asli Dayak.

Untuk memahami Asal Usul Kalimantan Tengah dan penamaannya, kita harus menelusuri tiga lapisan sejarah: nama pulau secara umum, penentuan administratif kolonial, dan perjuangan pembentukan provinsi pasca-1945.

Asal Usul Kalimantan Tengah: Nama Pulau dan Geografi

Sebelum masuk pada konteks spesifik provinsi, kita perlu mengingat asal usul nama pulau secara keseluruhan, yang kemudian menjadi dasar penamaan provinsi.

Dari Borneo ke Kalimantan: Identitas Nusantara

Sebagaimana yang sudah dikenal, nama Borneo adalah sebutan dari bangsa Eropa yang terkait dengan Kesultanan Brunei di Utara. Sementara itu, nama Kalimantan yang kita gunakan saat ini memiliki akar linguistik yang kuat di Nusantara, diperkirakan berasal dari kata Sanskerta “Kalamanthana” (pulau pembakar) atau dari sebutan lokal untuk kelompok etnis Dayak tertentu.

Penamaan provinsi ini menggunakan nama “Kalimantan” karena mencerminkan identitas nasional dan geografis Indonesia.

Posisi Geografis sebagai Penentu Utama

Penamaan Kalimantan Tengah adalah penamaan yang paling literal dan jelas secara geografis. Tidak ada nama kerajaan besar atau kesultanan yang dominan di wilayah ini yang digunakan sebagai nama provinsi (seperti Kesultanan Banjar di Selatan atau Kesultanan Pontianak di Barat).

Selama era kolonial, wilayah ini memang diidentifikasi hanya berdasarkan letaknya yang berada di tengah pulau Borneo. Hal ini mencerminkan fakta bahwa wilayah ini didominasi oleh pedalaman yang dihuni oleh berbagai sub-suku Dayak, yang hidup relatif otonom dan terpisah dari pusat-pusat maritim yang dikuasai Melayu atau Banjar di pesisir.

Sejarah Nama Kalimantan Tengah Era Kolonial dan Otonomi

Langkah krusial dalam pembentukan Kalimantan Tengah dimulai pada masa kolonial Belanda, di mana wilayah ini menjadi sub-bagian dari Divisi yang lebih besar.

Wilayah Subordinat: Bagian dari Zuid-en Oosterafdeeling van Borneo

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, seluruh Kalimantan (kecuali Westerafdeeling atau Kalimantan Barat) dikelompokkan dalam satu administrasi besar yang disebut Zuid- en Oosterafdeeling van Borneo (Divisi Selatan dan Timur Borneo).

Wilayah yang kini menjadi Kalimantan Tengah saat itu dikenal sebagai Afdeeling Sampit en Kota Waringin dan Afdeeling Hoeloe Soengei (Hulu Sungai), yang semuanya berada di bawah otoritas administratif Banjar. Dengan kata lain, wilayah pedalaman dan pesisir selatan-tengah ini secara administrasi adalah subordinat dari Banjarmasin.

Ketidakpuasan terhadap dominasi Banjar dan keinginan untuk memiliki identitas administratif sendiri menjadi pendorong utama Asal Usul Kalimantan Tengah sebagai entitas politik.

Perjuangan Aspirasi Dayak dan Pembentukan DOB

Setelah Indonesia merdeka, wilayah bekas Divisi Selatan dan Timur Borneo menjadi Provinsi Kalimantan. Namun, ketimpangan pembangunan dan kuatnya perbedaan budaya antara suku Dayak di pedalaman (yang menjadi mayoritas di wilayah tengah) dan suku Banjar di pesisir selatan memicu gerakan untuk memisahkan diri.

Tokoh-tokoh Dayak, terutama dari sub-suku Ngaju, Ma’anyan, dan Ot Danum, menyuarakan aspirasi otonomi daerah yang terpisah dari Banjar. Mereka menginginkan sebuah provinsi yang dapat mewakili dan mengembangkan budaya Dayak secara mandiri.

Nama “Kalimantan Tengah” dipilih karena merupakan penamaan yang paling netral, deskriptif secara geografis, dan diterima oleh berbagai sub-etnis Dayak sebagai nama provinsi baru mereka.

Deklarasi Provinsi dan Filosofi Budaya

Titik balik sejarah nama Kalimantan Tengah adalah ketika aspirasi otonomi tersebut diwujudkan.

Penetapan Provinsi Kalimantan Tengah 1957

Setelah melalui perjuangan politik yang panjang, Provinsi Kalimantan Tengah akhirnya secara resmi dibentuk pada 23 Mei 1957 melalui Undang-Undang Darurat Nomor 10 Tahun 1957. Penetapan ini menjadi puncak dari pergerakan rakyat Dayak yang ingin memerdekakan diri secara administratif dari Banjarmasin.

Ibu kota provinsi ditetapkan di Palangka Raya (yang pada saat itu bernama Palangkaraya), sebuah kota yang didirikan di pedalaman, bukan di pesisir, yang menunjukkan niat untuk membangun pusat pemerintahan yang benar-benar mewakili wilayah tengah.

Identitas Kultural: Bumi Tambun Bungai

Meskipun secara resmi bernama “Kalimantan Tengah,” identitas provinsi ini sering dihiasi dengan sebutan kultural dan filosofis yang diambil dari kearifan lokal Dayak:

  1. Bumi Tambun Bungai: Nama ini diambil dari tokoh legendaris dalam tradisi Dayak Ngaju, yakni Tambun dan Bungai, yang melambangkan kepahlawanan, keberanian, dan persatuan. Sebutan ini menjadi semboyan semangat daerah.
  2. Huma Betang: Falsafah Huma Betang (Rumah Panjang) melambangkan toleransi, kebersamaan, dan hidup rukun antarsuku dan agama di Kalimantan Tengah.

Nama Kalimantan Tengah dengan demikian tidak hanya mencerminkan letak geografis, tetapi juga statusnya sebagai benteng otonomi dan pusat kebudayaan Dayak di pulau besar ini.

Kesimpulan

Sejarah nama Kalimantan Tengah adalah kisah pemisahan yang damai namun tegas, yang bertujuan untuk menciptakan ruang bagi perkembangan identitas lokal yang telah lama terdesak oleh pusat-pusat kekuasaan pesisir. Dari hanya sebuah Afdeeling di bawah otoritas Banjar, ia kini berdiri tegak sebagai provinsi mandiri, mewakili jantung geografis dan kultural pulau Borneo.