Telusuri sejarah Padang yang kaya, mulai dari arti nama Padang sebagai ‘dataran luas’, perkembangannya sebagai wilayah Rantau Minangkabau, hingga peran krusialnya sebagai pusat perdagangan VOC. Pahami lengkap Asal Usul Padang dan penetapan hari jadinya.

Menguak Tirai Sejarah Nama Padang: Dari Hamparan Dataran Luas Menjadi Kota Pelabuhan Strategis

Sejarah Padang adalah kisah yang menarik mengenai evolusi sebuah kawasan dari dataran luas (padang) yang sunyi menjadi ibu kota provinsi Sumatera Barat dan salah satu kota pelabuhan terpenting di pantai barat Sumatera. Kedudukannya yang unik sebagai wilayah Rantau dalam adat Minangkabau membuatnya berbeda dari daerah Luhak (pedalaman), menjadikannya gerbang utama interaksi budaya dan ekonomi antara pedalaman Minang dengan dunia luar.

Untuk memahami Asal Usul Padang secara utuh, kita perlu menelusuri beberapa versi penamaan dan kronologi peristiwa penting yang membentuk identitas kota metropolitan ini.

Asal Usul Nama Padang: Tiga Interpretasi Etimologis

Nama “Padang” diperkirakan sudah digunakan sejak permulaan pemukiman di wilayah ini, dan setidaknya ada tiga interpretasi utama mengenai asal kata tersebut:

1. Padang Berarti Dataran yang Luas (Interpretasi Geografis)

Interpretasi yang paling kuat dan umum diterima secara etimologis menyatakan bahwa nama Padang merujuk pada kondisi geografis wilayah tersebut.

Kata Padang dalam bahasa Melayu dan Minangkabau memiliki arti dataran yang luas, tanah lapang, atau gurun. Kota Padang memang secara fisik merupakan dataran rendah yang luas yang diapit oleh perbukitan yang tidak terlalu tinggi di sebelah timur, dan berbatasan langsung dengan Samudra Hindia di sebelah barat. Kondisi ini sangat berbeda dengan topografi pedalaman Minangkabau (Luhak) yang didominasi pegunungan dan lembah sempit.

Oleh karena itu, ketika rombongan pertama dari pedalaman (Luhak Agam atau Solok) datang dan membuka pemukiman, mereka menamakan daerah tersebut sesuai dengan ciri fisiknya yang berupa padang atau tanah lapang.

2. Kaitan dengan Penemuan Benda (Interpretasi Legenda)

Versi lain yang beredar di kalangan masyarakat, sebagaimana dicatat dalam beberapa sumber, mengaitkan nama Padang dengan penemuan benda bersejarah. Konon, salah seorang perantau atau pembuka lahan pertama menemukan sebuah pedang kuno di wilayah tersebut.

Kata Pedang tersebut kemudian diadopsi dan mengalami perubahan pelafalan menjadi Padang, digunakan sebagai nama tempat ditemukannya benda tersebut. Meskipun bersifat folkloris, versi ini menjadi bagian dari kekayaan naratif sejarah Padang.

3. Pengambilan Nama Bukit atau Tokoh

Interpretasi ketiga, yang sering dikaitkan dengan penamaan oleh pihak kolonial, adalah penamaan yang didasarkan pada nama bukit atau tempat di sekitar lokasi. Namun, hal ini lebih sering terjadi pada benteng atau kota kolonial lain (seperti Fort de Kock untuk Bukittinggi). Untuk Padang sendiri, kaitan yang paling kuat tetap pada arti “dataran luas”.

Padang: Dari Kampung Nelayan Menuju Pusat Rantau Minangkabau

Sebelum kedatangan bangsa Eropa, Padang sudah dikenal sebagai kampung pemukiman nelayan dan pengumpul garam di muara Batang Arau, meskipun belum sepenting pelabuhan lain seperti Pariaman atau Tiku.

Kedatangan dan Kekuatan VOC

Perkembangan signifikan yang mengubah nasib Padang terjadi pada abad ke-17 dengan kedatangan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Belanda.

  1. Awal Abad ke-17: VOC mulai beroperasi di sekitar pantai barat Sumatera. Setelah sempat mendirikan loji di Pulau Cingkuk (dekat Painan), VOC memindahkan pusat kegiatan dagangnya dan mendirikan loji-loji di Muara Batang Arau, yang merupakan cikal bakal Kota Tua Padang.
  2. Padang sebagai Headquarter: Padang dipilih VOC sebagai pusat perwakilan (headquarter) dagang untuk seluruh pesisir barat Sumatera, menggantikan Painan dan Pulau Cingkuk. Hal ini disebabkan oleh posisi strategis Padang yang terlindung dan lebih dekat dengan akses ke pedalaman Minangkabau yang kaya akan rempah (terutama lada dan kemudian kopi).
  3. Traktat Painan: Penetapan Padang sebagai pusat kekuasaan VOC semakin kuat setelah Traktat Painan (1663), yang secara efektif memberikan Belanda hak monopoli dan kontrol atas perdagangan di wilayah tersebut.

Penetapan Hari Jadi Kota (7 Agustus 1669)

Penentuan tanggal hari jadi kota Padang tidak didasarkan pada penemuan nama atau pendirian loji, melainkan pada sebuah peristiwa perlawanan heroik rakyat lokal terhadap monopoli VOC.

Pada tanggal 7 Agustus 1669, masyarakat Pauh dan Koto Tangah, didukung oleh kekuatan dari Kesultanan Aceh (yang sebelumnya berkuasa di pesisir barat Sumatera), melakukan perlawanan besar-besaran terhadap VOC. Mereka mengepung dan membakar benteng VOC di Padang.

Meskipun perlawanan ini berhasil diredam oleh Belanda, peristiwa 7 Agustus 1669 ini diabadikan sebagai tahun lahir dan Hari Jadi Kota Padang, melambangkan semangat perlawanan rakyat setempat dalam mempertahankan kedaulatan wilayahnya.

Padang Era Modern: Kota Pelabuhan dan Ibu Kota Provinsi

Di bawah kendali kolonial Belanda dan kemudian Hindia Belanda, Padang berkembang menjadi kota dagang dan pusat administrasi yang terencana, ditandai dengan pembangunan infrastruktur pelabuhan modern.

Pembangunan Teluk Bayur (Emmahaven)

Ketika Pelabuhan Muara di Batang Arau mulai dangkal dan tidak mampu menampung kapal-kapal samudra besar, Belanda membangun pelabuhan baru yang jauh lebih besar dan modern, yaitu Emmahaven (sekarang dikenal sebagai Pelabuhan Teluk Bayur) pada akhir abad ke-19. Pembangunan ini sejalan dengan meningkatnya eksploitasi hasil tambang batubara dari Sawahlunto dan komoditas kopi dari pedalaman.

Setelah kemerdekaan, Padang tumbuh sebagai pusat perdagangan regional dan akhirnya ditetapkan sebagai Ibu Kota Provinsi Sumatera Barat. Identitas Padang kini mencerminkan perpaduan antara budaya Rantau Minang yang terbuka dengan jejak sejarah maritim dan kolonial yang kuat, menjadikannya kota yang dinamis dan modern di pesisir Samudra Hindia.